Pembangunan, Dari dan Untuk Siapa?
Sebelum menuju ke materi, apa yang kalian pikirkan pertama
kali saat mendengar kata "pembangunan" ?
Atau pernahkah sekalipun terbesit dalam pikiran kalian,
bahwa pembangunan itu dimulai dari siapa dan dilakukan untuk siapa?
Pada dasarnya,
pembangunan terjadi karena pola pikir manusia yang semakin berkembang sehingga
menciptakan ide-ide atau gagasan ataupun penemuan-penemuan baru (inovasi) yang
jauh lebih modern daripada yang sebelumnya. Definisi pembangunan itu sendiri
adalah mendefenisiskan pembangunan
sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya (Portes: 1976).
Pembangunan terdiri dari
2 sifat yaitu, fisik dan nonfisik. Maka dari itu pembangunan masuk kedalam
ranah materi pembahasan komunikasi sosial dan pembangunan. Pembangunan yang
bersifat fisik, contohnya pembangunan infrastuktur. Sedangkan yang bersifat
non-fisik contohnya pemberdayaan sumber daya manusia (SDM). Dapat digambarkan
bahwa pembangunan bukan hanya sekedar membangun gedung-gedung bertingkat,
perkantoran, atau gedung-gedung pendidikan saja. Namun, pembangunan-pun
menyangkut aspek biologis (manusia), karena manusia juga merupakan salah satu
aspek terpenting dalam perubahan-perubahan yang ada di dunia ini. Setiap
wilayah, setiap daerah memiliki keunikan tersendiri pada setiap diri individu
(manusia)nya, jika tidak ada manusia, maka tidak ada pembangunan.
Ø Pembangunan Berasal
dari Siapa?
Jika dilihat dari azas
demokrasi, pembangunan diperoleh dari rakyat. Pada azas demokrasi rakyat
merupakan lembaga paling tertinggi, kekuasaan pemerintahan tertinggi ada di
tangan rakyat, seperti yang telah kita pelajari pada mata pelajaran sekolah
bahwa azas demokrasi berbunyi “pemerintahan suatu
negara yang diselenggarakan dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat”.
Dalam hal pembangunan
suatu infrastuktur (fisik) maupun pemberdayaan manusianya (non-fisik), manusia
berperan amat penting. Pembangunan-pembangunan infrastuktur pada pemerintahan
kini semakin berkembang (dari hal yang tradisional hingga menjadi hal yang
sangat modern seperti sekarang ini) berkat dorongan perubahan dari rakyat yang
menginginkan suatu perubahan dalam hidup mereka guna semakin menyamankan dan
mempermudah aktivitas rakyat. Usulan-usulan dari rakyat-pun disetujui dan
pemerintah berusaha untuk merealisasikan keinginan-keinginan rakyatnya. Pemerintah
dalam merealisasikan keinginan rakyatnya membuat suatu aturan atau sistem baru
juga, yaitu sistem membayar pajak. Sistem ini ditujukan bukan semata-mata
memperoleh uang yang banyak, tetapi uang yang didapat dari pajak akan kembali
ke rakyat (dengan pemungutan pajak maka infrastuktur yang memerlukan biaya yang
cukup besar akan mudah tertutupi).
Dalam membangun suatu
infrastuktur-pun diperlukan manusia yan terampil, maka dari itu pembangunan
yang berasal dari dalam diri manusia atau yang bersifat non-fisik yang menjadi
dasar utama sebuah perubahan. Namun amat disayangkan, seiring berkembangnya
zaman kepribadian atau karakter yang ada pada diri manusia semakin menurun. Manusia
sekarang cenderung malas, hal ini disebabkan mungkin karena fasilitas-fasilitas
yang disediakan pemerintah kepada rakyat sudah melampaui batas, sehingga
membuat rakyat malas untuk berfikir kedepan. Contoh saja kepribadian yang ada
pada diri manusia Indonesia, menurut Mochtar Lubis dalam bukunya:
Pertama, munafik. Mempunyai penampilan yang berbeda, di depan dan belakang.
Sifat ini muncul karena sejak lama manusia
Indonesia mengalami penindasan sehingga tidak mampu untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang dikehendakinya, dan sesuai dengan
hati nuraninya
Kedua, segan dan enggan bertanggungjawab atas
perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. Di
sini, mereka lebih mudah untuk melemparkan tanggungjawab kepada
orang lain, dari bertanggungjawab atas sesuatu kesalahan atau kegagalan.
Akan tetapi jika merupakan suatu keberhasilan,
maka mereka paling depan mengatakan, itu karena saya.
Ketiga, jiwa feodalistik. Mereka yang mempunyai
kekuatan dan kekuasaan harus dihormati oleh yang dikuasai,
yang kecil dan tanpa kekuasaan harus mengabdi kepada yang
besar. Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang berkuasa, juga harus
dihormati oleh mereka yang di bawahnya, isteri bawahan harus
menghormat isteri atasan, anak bawahan harus menomersatukan anak atasan,
dan seterusnya.
Keempat, percaya takhyul. Latar belakang 'agama' asli
manusia Indonesia yang animis dan spiritis -termasuk di dalamnya
totemnisme dan dinamisme- yang sudah berakar, menjadikan apa pun
agama manusia Indonesia, ia tetap mempertahankan hal-hal yang supra natural
dari 'agama' asli tersebut.
Kelima, artistik. Ciri ini selalu memperlihatkan sesuatu
yang indah, baik, bagus serta mempesonakan untuk dipandang. Ciri ini
bisa mampu menyimpan atau menyembunyikan keadaan sebenarnya yang ada
dalam hidupnya, jiwanya, kalbunya. Orang asing -turis mancanegara-
paling senang menonton nuansa artistik manusia Indonesia ini, karena
memang dipertontonkan oleh manusia Indonesia sendiri.
Ciri ini mungkin datang dari sikap manusia Indonesia yang ramah dan
menyenangkan orang lain, sehingga tidak mau siapa pun melihat hal-hal jelek,
tidak baik, dan buruk dari dalam diri mereka.
Keenam, watak yang lemah. Manusia Indonesia kurang kuat
dalam mempertahankan dan memperjuangkan keyakinan serta pendiriannya.
Hal menjadikan manusia Indonesia cepat berubah prinsipnya, seiring
dengan tekanan yang ia dapatkan dari luar dirinya. Dan masih banyak lagi
ciri-ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis. (sumber: Kompasiana).
Dilihat dari
karakteristiknya, pantas jika infrastuktur yang ada tidak merata, masih banyak
sekolah-sekolah yang tidak layak untuk masyarakat pedesaan, jalan yang tidak
nyaman di daerah terpencil, juga pemberdayaan manusianya (pendidikan) yang
tidak maksimal untuk anak-anak yang ada di daerah-daerah kecil. Sehingga pemerintahpun
semakin kesulitan dalam mengontrol permasalahn-permasalahan ini, pembangunan
infrastukturpun jadi terhambat.
Ø Pembangunan diberikan
Untuk siapa?
Kembali lagi pada azas
demokrasi yang dikemukakan Abraham Lincoln yaitu “pemerintahan suatu negara yang diselenggarakan dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Pemerintah dalam
membangun infrastukturnya hanya untuk rakyat, karena ide atau gagasannya pun
berasal dari rakyat (dibangun atas dasar kepentigan rakyat).
Misalnya, pembangunan jembatan untuk
menyebrangi sungai (dari dataran satu ke dataran yang lainnya), atau membuat
jalanan dari aspal agar masyarakat menjadi nyaman saat menggunakan jalan untuk akses
aktivitas dalam keseharian mereka.membangun tempat-tempat pendidikan guna
mencapai tujuan rakyat dalam pembukaan UUD 1945 yaitu “… mencerdaskan kegidupan
bangsa …”. Selain pembangunan infrastuktur dan pendidikan, ekonomi nasional pun
termsuk kedalam pembangunan.
Seiring selalu berkembangnya jumlah
penduduk (khususnya di Indonesia), maka perekonomian pun haru disesuaikan agar
dapat seimbang abtara jumah penduduk dengan ekonominya. Ekonomi sangat dibutuhkan rakyat guna memenuhi
keberlangsungan hidup mereka. Dalam hal ini pemerintah memberikan lapangan
pekerjaan yang kemudian diberi upah (sesuai dengan pekerjaan mereka), sehingga
rakyatpun dapat membeli kebutuhan pokok harian dan kebutuhan-kebutuhan samping
lainnya. Selain dari lapangan pekerjaan yang disediakan manusia, jangan lupa
bahwa ada sumber daya alam yang secara gratis diberikan oleh Sang Maha Pencipta
harus dikelola juga pemerintah dan dimanfaatkan pemerintah untuk warga
negaranya sendiri, agar perekonomian semakin merata, jika semua itu dikelola
dengan baik maka tidak ada lagi kemiskinan dan pengangguran di negeri ini.
Komentar
Posting Komentar